Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi unusia.ac.id)

Memasuki pukul lima sore waktu Bali, turis domestik dan mancanegara mulai memadati area wisata Uluwatu. Tujuannya menonton tari Kecak dari stage outdor yang dibangun diatas tebing berketinggian kira-kira 70 meter dari ketinggian air laut. Terik matahari sore tak menyurutkan ratusan langkah kaki memenuhi stage yang memuat lebih dari 400 orang. Memasuki pukul enam sore menjelang sunset, saat langit mulai tampak berwarna orange dan air laut tersaput cahaya kemerahan, tarian Kecak dimulai.

Pementasan tari Kecak di Uluwatu memang istimewa. Stage dibangun nyaris melingkar dengan latar panggung laut lepas berhias tebing curam dan menghadap sunset. Pengunjung pun dapat dua tontonan sekaligus, yaitu tarian Kecak dan sunset. Jika iklimnya bagus, maka mata pengunjung dimanjakan dengan keindahan alam hasil perpaduan antara laut, langit, tebing dan sunset.

Tarian Kecak dikemas profesional. Koreografer tidak hanya menampilkan tarian Kecak saja namun dikemas dalam skenario cerita klasik Ramayana. Disela babakan cerita tersebut terdapat dialog yang cukup komunikatif dengan penonton sehingga membuat suasana rileks penuh gelak tawa penonton.

Masyarakat Bali sudah canggih mengelola pariwisata. Kekayaan budaya yang dimilikinya mampu ia jadikan infrastruktur ekonomi untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat tanpa mendistorsi kandungan intelektual, spiritual dan estetisnya (Williams, 1983). Kerumitan tersendiri melakukan kerja seperti ini. Salah satu tantangannya adalah menyajikan tarian Kecak menjadi tontonan yang menyenangkan sambil mempertahankan eksklusivitasnya.

Menyaksikan pagelaran tarian Kecak di Uluwatu memberi kesan telah runtuh dikotomi antara budaya tinggi dan budaya pop. Tarian Kecak sebagai budaya tinggi dilengkapi unsur infrastruktur Uluwatu yang komplit. Jadilah tarian Kecak yang ‘ngepop’. Maka tarian Kecak di Uluwatu berbeda dengan kasus teater William Shakespeare saat ini dimana dulunya masih dimungkinkan merupakan produk teater yang biasa-biasa saja.

Tarian Kecak yang magis tersaji di Uluwatu telah menguatkan Bali sebagai destinasi wisata dunia. Meski demikian, para pekerja budaya di Uluwatu tetap harus terus berbenah. Di antaranya, menyempurnakan fasilitas bangunan pertunjukan dengan pintu keluar masuk agar tidak mengganggu sakralitas pertunjukan. Caranya, membuat pintu keluar masuk tidak tersambung sampai ke tribun sehingga tribun para penari tidak tersentuh penonton.

Panitia pertunjukan juga perlu memberikan batas waktu kapan penonton boleh masuk ke stage outdor tersebut. Sehingga saat pagelaran berlangsung sudah tidak terlihat lalu lalang penonton.

Terlepas kekurangan tersebut, menyaksikan tarian Kecak dari atas tebing tinggi dalam balutan sunset dihamparan laut Samudera tetap saja terasa nikmat dan magis.