Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi Unusia.ac.id)

Pagi itu suasana Gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah tampak ramai. Ribuan orang dari semua umur memadati luar dan dalam gedung. Karangan bunga berjejer rapi di sisi kanan dan depan gedung. Wajah ceria saling menyapa membersitkan kebahagiaan dan optimisme. Mereka adalah para mahasiswa dan pihak keluarga yang mengikuti proses wisuda yang diselenggarakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) yang berdomisili di Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. Pemerintah melalui Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, ikut menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut.

Prasasti mesin gerakan di bidang pendidikan tinggi telah ditancapkan setelah hampir seratus tahun para kiai fokus melakukan perubahan sosial keagamaan melalui Nahdlatul Ulama. Peristiwa wisuda para mahasiswa Unusia ini mempunyai benang merah dengan statemen Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj pada 1999 saat Muktamar NU di Lirboyo yang berobsesi melahirkan seribu doktor dari generasi muda Nahdlatul Ulama. Adalah Kiai Said Aqil yang dalam tujuh tahun terakhir getol membangun kekuatan pendidikan tinggi hingga NU yang dipimpinnya saat ini mampu mendirikan 32 Universitas Nahdlatul Ulama. Keberadaan Universitas Nahdlatul Ulama telah menambah opsi kuliah generasi muda NU.

Universitas Nahdlatul Ulama diberbagai daerah tampak berbenah diri. Keberadaan mereka mampu menumbuhkan optimisme baru di kalangan generasi muda NU untuk studi di universitas sendiri. Disamping itu optimisme baru juga muncul di kalangan masyarakat kecil untuk bisa studi di universitas. Universitas NU sudah berada dimana-mana, masyarakat tidak perlu takut lagi terhadap biaya kuliah (Said Aqil Siroj, 2015).

Pemerataan universitas dan keterjangkauan biaya pendidikan dapat memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi. Langkah NU mendirikan puluhan universitas dalam kerangka menjangkau masyarakat kecil untuk bisa kuliah. Melalui pendidikan tinggi inilah optimisme tumbuh mengingat bagi warga NU kuliah itu disikapi sebagai proses belajar menuntut ilmu. Hal ini sesuai dengan harapan Pemerintah bahwa lulusan universitas itu idealnya kompeten terhadap bidang studi yang dipilihnya. Tahap selanjutnya kompetensi seorang lulusan pendidikan tinggi disamping dibuktikan dengan ijazah juga perlu diuji oleh sebuah lembaga sertifikasi kompetensi yang outputnya berbentuk sertifikat kompetensi profesi tertentu (Nasir, 2017).

Di era global dengan perkembangan teknologi yang canggih menuntut pendidikan tinggi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikannya. Langkah inovasi dan skill di lingkungan pendidikan tinggi sangat mempengaruhi tingkat kualitas mahasiswa yang berproses didalamnya. Karena itu pendidikan tinggi yang baik adalah yang mampu menyiapkan lulusannya mempunyai kekuatan nalar inovasi dan skill untuk bersaing di tingkat global (Nasir, 2017).

Diantara parameter kualitas sebuah pendidikan tinggi adalah jumlah publikasi di tingkat internasional, seberapa banyak artikel ilmiah berhasil dipublikasi. Indonesia sendiri telah mengalami peningkatan yang pesat pertumbuhan artikel ilmiah. Setelah melampaui Thailand diharapkan dalam pergantian tahun ini sudah melampaui Singapura, optimis mampu mencapai angka lima belas ribu hingga tujuh belas ribu yang setara dengan peringkat kedua se-ASEAN (Nasir, 2017).