oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Peradaban tidak muncul tiba-tiba. Ia dikonstruk oleh seseorang yang idenya diterima oleh kelompok masyarakat. Jika Huntington (1996) memposisikan bahasa dan agama sebagai elemen penting sebuah peradaban maka hal itu sesuai dengan fakta banyaknya aktor peradaban di Indonesia yang tidak lepas dari sosok yang memahami agama.

Di Indonesia, gerakan perubahan yang bermuara pada bangunan peradaban tidak bisa lepas dari Pondok Pesantren Tremas Pacitan (selanjutnya cukup saya sebut Tremas). Pondok Pesantren yang didirikan KH Abdul Manan pada 1830 ini telah melahirkan tokoh-tokoh besar, diantaranya KH Mahfudz Termas. Melalui tangan dingin Kiai Mahfudz Termas di tanah suci Mekkah, telah lahir tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, diantaranya KH Hasyim Asyari dari Jombang Jawa Timur; KH Mas Nawawi dari Sidogiri Pasuruan Jawa Timur; KH Abbas dari Buntet Cirebon Jawa Barat; KH Dalhar dari Watucongol  Magelang, Jawa Tengah dan lainnya.

Menjangkau Tremas harus melalui jalan berkelok-kelok yang diapit tebing dan sungai cukup besar. Tremas adalah nama satu desa di Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan. Nama ‘Pondok Pesantren Tremas’ adalah wujud dari tradisi para Kiai yang memberi nama pesantren yang dikelalonya dengan nama desa tempat tinggalnya. Jika ingin menjangkau Tremas, jalur yang mudah melalui bandara di Jogjakarta atau Solo. Meski medannya menantang namun menarik menyaksikan dari dekat Tremas yang letaknya di tepi pantai selatan Pulau Jawa itu.

Tremas masa lalu adalah pusat ilmu pengetahuan yang bersambung ke Mekkah melalui KH Abdullah, putera KH Abdul Mannan. Tradisi keilmuan yang bersambung ke Mekkah diteruskan oleh putera Kiai Abdullah, yaitu KH Mahfudz bin Abdullah Termas dan KH Dimyathi bin Abdullah Termas. Karena itulah Tremas di dekade awal abad 19 menjadi pusat ilmu pengetahuan. Jika di Mekkah para kiai Nusantara berguru kepada Kiai Mahfudz Termas, sedangkan di Tremas para Kiai Nusantara berguru kepada KH Dimyathi. Di antara murid-murid KH Dimyathi adalah KH Mahrus Aly Lirboyo, KH Muhammad Munawwir Krapyak, KH Raden Arwani Kudus, KH Ma’shum Lasem, KH Mahfudz Singapura dan lainnya.

Tremas masa lalu juga pusat pergerakan. Tremas harus bersiasat melawan penjajahan Jepang, Pemberontakan PKI di Madiun dan Agresi Milier Belanda II. Kekejaman Jepang mengakibatkan para santri meninggalkan Tremas sehingga pesantren pun sepi. KH Hamid Dimyathy—pengasuh Tremas saat itu—akhirnya terjun ke pusaran pergerakan, diantaranya menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan aktif di Partai Masyumi. Disamping menghadapi agresi Militer Belanda II, Tremas juga harus menghadapi Pemberontakan PKI Madiun. Kiai Hamid Dimyathi pun merasa perlu konsolidasi kekuatan dengan Kraton Jogjakarta. Saat perjalanannya menuju Kraton Yogjakarta menemui Sultan Hamengkubuwono IX, PKI menyergap Kiai Hamid Dimyathi di daerah Pracimantoro Wonogiri. PKI menyiksanya dengan cara memasukkan Kiai Hamid ke dalam Lubang Demamit bersama 13 orang teman seperjuangannya. Kiai Hamid Dimyathi pun mati syahid dalam peristiwa penyiksaan ini yang terjadi di daerah Tirtomoyo Wonogiri pada tahun 1948.

Tremas kini masih menjadi pusat ilmu keislaman. Sekitar 3000 santri Tremas datang dari berbagai penjuru Indonesia, mayoritas berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kemasyhuran Tremas kini tentu tidak lepas dari sejarah peradabannya. Bahkan hingga kini Tremas masih memelihara naskah-naskah peninggalan kiai-kiainya. Tak hanya naskah, beberapa bangunan kuno tetap dipelihara dengan sedikit renovasi, seperti satu petak asrama putera dan bangunan kuno dimana para leluhur termasuk KH Mahfudz Termas pernah tinggal.

Selamat mengais ilmu keislaman di Tremas. Saat berkunjung ke Tremas jangan lupa meniti 97 tangga untuk ziarah ke makam para tokoh leluhur Tremas.