oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Hasil satu penelitian terbaru memasukkan Jakarta sebagai peringkat pertama dengan kategori toleransi rendah 2017 (Tribunnews,17/11). Seakan-akan tidak peduli terhadap hasil riset tersebut, masyarakat Jakarta tetap tenggelam dalam kesibukan yang tinggi. Tengok saja bilangan Salemba, ribuan mahasiswa tampak asik melewati hari-hari akademisnya, hilir mudik kuliah sambil sesekali memenuhi ruang Perpustakaan Nasional. Bergeser ke sisi utara tepatnya di kawasan Menteng, para aktifis sosial keagamaan masih tenggelam dalam rutinitas agenda-agenda perubahannya. Masyarakat pebisnis juga dapat disaksikan di kawasan Thamrin hingga Jalan Sudirman. Begitu pula di lingkungan Monas, para birokrat masih rutin menggerakkan mesin Pemerintahan.

Jika Anda belum pernah ke Jakarta, jangan sekali-kali masuk atau keluar Jakarta di Hari Jumat dan Senin. Pilihlah hari lain sebab Jumat dan Senin merupakan akumulasi orang-orang hilir mudik ke Jakarta, mulai yang cuma dari dan ke kota-kota di sekitar Jakarta hingga mereka yang kampungnya di Lampung, Palembang, Balikpapan, Semarang, Surabaya, Makassar, dan lainnya. Di hari Jumat, akses ke luar Jakarta sangat sibuk dan memacetkan jalanan, mulai dari jalan-jalan menuju luar kota Jakarta hingga jalanan menuju moda transportasi kereta api; bandar udara dan pelabuhan. Di hari Jumat dan Senin cukup banyak tiket perjalanan hangus karena pemiliknya terjebak kemacetan Ibukota.

Jakarta sebagai Ibukota Negara berkonsekuensi pada keterpusatan semua aktifitas orang Indonesia. Jakarta sebagai pusat bisnis telah menyulap kota menjadi area industri dan jasa. Masyarakat Jakarta pun mengalami peralihan yang sangat cepat disamping standar hidup yang jauh lebih tinggi. Urbanisasi terjadi dengan beragam latar belakang sosial budaya. Meski Jakarta menjadi kota yang sangat kompleks, ia terus berkembang maju bersama masyarakat Indonesia. Jakarta menjadi kota yang diakrabi masyarakat Indonesia itu tentu karena telah memenuhi standar kemanusiaan, diantaranya kenyamanan, ketenangan dan keharmonisan.

Di tengah fakta sosial di atas, logiskah Jakarta divonis sebagai kota yang toleransinya paling rendah se Indonesia? Menyebut Jakarta demikian sama saja dengan memvonis masyarakat Jakarta sebagai entitas yang asosial. Padahal masyarakat Jakarta yang diinisiasi oleh orang-orang Betawi telah membuktikan bahwa ia sangat menghargai perbedaan. Tanpa ada penghargaan terhadap perbedaan tentu tidak akan terjadi urbanisasi, Jakarta menjadi kota sepenting ini dan akibatnya orang-orang itu pasti menghindari Jakarta sebagai tempat aktifitasnya. Meminjam analisa Yinger (1963), kemampuan masyarakat Betawi mengimplementasikan makna toleransi tentu tidak lepas dari kehidupannya yang berpedoman pada nilai-nilai agamanya. Sebab toleransi adalah jawaban agama disaat ilmu pengetahuan tidak dapat memberikannya.

Isu ‘masyarakat intoleran’ memang telah menyasar Jakarta sejak beberapa waktu lalu menjelang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta. Berbagai isu dan propaganda dari berbagai penjuru negeri menyasar DKI Jakarta melalui kedigjayaan media sosial. Masyarakat selalu digiring untuk membelah diri: agamis atau nasionalis; agamis atau liberalis; agamis atau komunis; agamis atau kapitalis; dan seterusnya. Arahnya sebenarnya sederhana: Anies atau Ahok? Pada konteks Pilkada tentu aktor dari perebutan dominasi opini adalah para politisi beserta infrastrukturnya. Inilah sumbangsih politisi maniak Pilkada untuk Jakarta.

Menyajikan Jakarta sebagai kota intoleran tentu merupakan hasil riset yang kontra produktif bagi image Ibukota Negara di dunia internasional. Faktanya keindahan Jakarta masih terjaga; aura akademis masih terasakan; kebinekaan masih terawat; suasana happy sangat mudah didapat; religiusitas masih tumbuh subur. Jakarta bukan kota gawat darurat.

Maka hasil sebuah riset bukan segala-galanya. Ia tetap sebatas laporan yang disampaikan kepada pihak yang menugaskan dan mensponsori penelitian tersebut (Sanapiah Faisal, 2001). Pada akhirnya fakta sosial yang paling valid menunjukkan kondisi masyarakaat. Menyaksikan secara langsung denyut nadi aktifitas masyarakat Jakarta adalah kemutlakan jika ingin memahami Jakarta. Kekuatan basis peradaban masyarakat Jakarta telah menjadikannya sebagai kota yang kompleks dan ia tidak akan porak-poranda hanya karena hasil survey yang negatif.