Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen di unusia.ac.id)

Jalan sepanjang lima ratus meter yang membelah satu Pasar Pagi di bilangan Kabupaten Bogor itu penuh sesak. Pedagang dan pembeli bertransaksi tiada henti meriuhkan suasana pagi. Toko-toko bangunan permanen tampak sibuk melayani pelanggannya. Sementara para pedagang kecil tampak berjejer panjang memenuhi sepanjang halaman toko. Ribuan para pembeli hilir mudik memburu incarannya sambil jalan kaki, berkendara motor, mobil bahkan angkutan umum.

Diantara aktivitas yang sudah terbiasa dan berlangsung lama di Pasar Pagi ini adalah transaksi ala ‘drive thru’. Di awal tahun 2010-an seorang Menteri kebingungan mengartikan kata ‘drive thru’ saat meresmikan layanan publik di satu institusi Pemerintah. Sementara para pegiat bahasa mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, diantara mereka menyebutnya dengan kata ‘lantatur’, kependekan dari ‘pelayanan tanpa turun’.

Para pengusaha besar sudah banyak yang mengenalkan layanan drive thru. Mereka menyediakan satu sisi bangunan tokonya sebagai loket yang difungsikan untuk melayani para pembeli yang enggan turun dari kendaraannya. Bahkan brand bisnis Mc Donald telah meluncurkan program Drive-Thru VIP yang dilengkapi hadiah setiap bulan.

Para pembeli yang berkendara memburu keperluannya tanpa turun dari kendaraannya. Sedangkan para pedagang melayani secara cepat. Kedua belah pihak nyaris tanpa tawar menawar. Para pedagang dan pembeli di Pasar Pagi inilah sejatinya perintis sistem drive thru. Sehari-hari terjadi kemacetan yang mengular namun sudah terasa ada pemakluman. Tak ada protes dan penanganan kemacetan.

Kemacetan yang berlangsung bertahun-tahun di jalan Pasar Pagi karena drive thru, meminjam teori pertukaran Doyle Paul Johnson (1981), terjadi karena drive thru telah menjadi sistem yang secara alamiah telah meningkatkan besaran transaksi pertukaran. Drive thru sebagai wujud sistem saling ketergantungan yang nyaris tak ada harapan bisa berkembang dengan cara lain.

Terlepas pada sistem drive thru yang yang telah merambah di semua kelas transaksi pertukaran, terdapat fakta bahwa drive thru yang diterapkan di gerai-gerai bisnis besar berjalan tanpa merugikan orang lain. Sebaliknya drive thru di Pasar Pagi telah mengusik kepentingan banyak orang. Kelompok yang kasat mata dirugikan tentu para pengguna jalan yang bertahun-tahun mengalami kerugian karena kemacetan. Pihak lain yang juga tampak dirugikan adalah para pemilik toko permanen yang lahan parkirnya telah tertutup pedagang kecil.

Kondisi ini harus diakhiri. Para pemegang kuasa Pasar Pagi perlu membuat kebijakan yang mampu mengalirkan semua kepentingan masyarakat dan memastikan kebijakan tersebut berjalan efektif. Jika kondisi ini terus dipelihara ditengah kelangsungan penderitaan sebagian masyarakat maka tak ubahnya kita masih berada di zaman pemerintahan primitif.

Depok, 5 Agustus 2018