Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Beberapa tahun menjelang reformasi, Gus Dur mengisi materi dalam satu acara Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur. Saat sesi tanya jawab, seorang tokoh NU berperawakan tinggi tegap nan gagah bertanya kepada Gus Dur. Forum menjadi hening mendengarkannya. Sejenak kemudian giliran Gus Dur menjawab. Namun yang mengejutkan banyak pihak adalah pengantar Gus Dur sebelum menjawab inti persoalan. Kira-kira Gus Dur mengatakan, “ini pertanyaan kualitas menteri.”

Reformasi pun bergulir yang kemudian mendudukkan Gus Dur sebagai Presiden. Tokoh NU yang pertanyaannya dipuji sekualitas menteri itu ternyata benar-benar menjadi menteri. Presiden Gus Dur mengangkatnya sebagai Menteri Agama. Tokoh tersebut tak lain adalah KH Tholchah Hasan.

Masyarakat pesantren tak mungkin bisa melupakan KH Tholchah Hasan. Sebab Kiai Tholchah yang membuka kran pendidikan anti diskriminasi di Indonesia saat beliau menjadi Menteri Agama. Santri lulusan pondok pesantren ia beri hak bisa studi di pendidikan tinggi.

Euforia kebijakan Kiai Tholchah
mengundang gelombang santri studi di pendidikan tinggi. Sampai terjadi satu kasus dialog panas antara seorang santri dengan Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di sebuah Universitas di Jawa Timur.
“Saya mau daftar kuliah.” Pinta seorang santri.
Panitia PMB itu menerima berkas pendaftaran yang diulurkan kepadanya. Namun sontak wajahnya berkerut saat memeriksa kelengkapannya.
“Maaf, gak bisa daftar kesini. Ijazah Anda tidak diakui.”
Santri itu percaya diri. Ia balik bertanya, “mbak nggak tahu ya Kebijakan baru Kementerian Agama yang membolehkan lulusan pesantren masuk universitas?”

Seorang panitia PMB tampak meninggalkan ruang pendaftaran dan berkonsultasi dengan atasannya. Tak lama kemudian ia kembali menemui santri tersebut dan berkata, “oke, Anda boleh daftar namun khusus untuk program studi agama.”

Santri itu pun riang. Ia berhasil lulus dan saat ini ia menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Perkembangan saat ini, para alumnus pesantren memang telah berkarir yang tersebar di berbagai bidang dan profesi. Mereka mampu berkompetisi secara sehat dengan anak bangsa dengan berbagai latar pendidikan. Kebijakan cemerlang Kiai Tholchah itulah landasannya.

Konsen Kiai Tholchah terhadap kemajuan pendidikan memang luar biasa. Lembaga Pendidikan Sabilillah di Malang adalah wujud ketekunannya. Begitu juga capaian fantastis Universitas Islam Malang.
“Wujudkan potensi masyarakat hingga menjadi sesuatu yang aktual.” Pesan Kiai Tholchah saat anak-anak muda pegiat sosial dari PBNU bersilaturahmi dengannya.

Kiai Tholchah kini telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Namun semangatnya tak pernah kendur berkhidmah untuk kemajuan generasi bangsa. Kepada generasi muda Kiai Tholchah berbagi tips kesuksesan, “jaga kepercayaan Tuhan, kepercayaan masyarakat dan kepercayaan Pemerintah.”