oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Satu persatu ratusan mahasiswa baru hadir di area Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) di Jakarta. Mereka datang dari Aceh hingga Papua, dari Sumbawa hingga Gowa. Kehadiran mahasiswa baru ini atas inisiasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang memberikan beasiswa. Saya membayangkan inisiasi ini menjadi semacam program ‘skenario konsolidasi NU memasuki abad kedua untuk masa depan Indonesia’.

Kampus Unusia telah membaurkan mereka yang berlatar belakang berbeda. Selama empat tahun ke depan mereka akan tinggal di satu lingkungan yang intensitas pertemuannya sangat tinggi. Kebersamaan yang tak hanya dihabiskan untuk belajar ilmu pengetahuan namun juga berinteraksi di bidang sosial dan budaya. Pada saat mereka selesai studi diharapkan mampu memahami konsep penguatan sosial budaya masyarakat sehingga dirinya mampu menjadi penggerak kolektifitas masyarakat untuk kemajuan bersama.

Ide dasar pemikiran ini sebenarnya sederhana, yaitu menumbuhkan kesadaran dan merasakan pengalaman tentang kebesaran Indonesia. Sebab selama ini generasi muda Indonesia hanya dipertontonkan tentang kebesaran Indonesia melalui sketsa dan data. Sampai saat ini masih sulit merasakan pengalaman tentang kebesaran Indonesia kecuali hanya segelintir orang. Anak muda dari Pulau Rote belum tampak menghabiskan kesibukannya di Pulau Miangas. Anak Papua juga belum terlihat beraktifitas di Papua.

Pertemuan anak negeri hingga saat ini masih diskenario oleh kesibukan Jakarta yang lebih mencerminkan loyalitas materi. Lalu lintas manusia langsung dari Aceh menuju Papua hingga saat ini belum tampak. Padahal rentang jarak Jayapura Papua hingga Sabang Pulau We nyaris sama dengan rentang jarak Kabul Afghanistan hingga Madrid Spanyol di era Dinasti Umayyah yang sering menimbulkan decak kagum itu.

Perlu langkah strategis untuk menjawab tantangan keindonesiaan kita ini. Kelompok yang akan menjawab tantangan ini adalah generasi millennial, yaitu anak-anak muda yang lahir awal 1980 hingga awal 2000 (Horovitz, 2012). Pew Research Center (2010) dalam rilis risetnya, Millennials: A Portrait of Generation Next mengungkap karakteristik generasi millennial, diantaranya  mereka lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah; kurang suka membaca secara konvensional; lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka dan cenderung tidak loyal namun bekerja efektif.

Kekuatan dan kelemahan generasi millennial inilah yang akan menentukan warna Indonesia masa depan. Karena itu mereka perlu ruang untuk mengkonsolidasi diri agar mampu memperkuat parameter dirinya untuk menghadapi capaian peradaban masyarakat Eropa, Amerika, Jepang termasuk Korea yang terus melaju.

Puncak dari pemikiran ini tentu kemunculan gerakan anak millennial yang secara sadar tidak terancam keindonesiaannya hanya gara-gara melihat soliditas anak bangsa lain. Generasi millennial yang merasakan pengalaman tentang kebesaran Indonesia dan bertindak memajukan peradaban Indonesia perspektif millennial. Dan, parameter sederhananya, terjadi fenomena anak millennial di Papua saat pagi hari  mulai berbisnis di bumi Aceh dan di sore harinya ia sudah menuntaskan pekerjaannya. Dan sebaliknya. Tak ada yang mustahil bagi anak millennial.