oleh D. Nawawy Sadoellah (Katib Majelis Keluarga Ponpes Sidogiri)

Massa yang besar, besar kemungkinan tak lahir dari sesuatu yang datar. Massa lebih mudah tersihir oleh agitasi yang ekstrem. Bukankah pada 1998 gerakan mahasiswa menjadi tumpah karena mikrofon demonstrasi yang hanya memantulkan sisi buruk sang Presiden?

Itulah massa. Mereka lebih terpikat oleh agitasi yang tak tanggung tanggung meskipun sering kali hanya berisi generalisasi yang terburu-buru. Agitasi yang menggelegar, tegas dan anti menyebutkan kata “mungkin” dan “barangkali”. Bahwa ini pasti malaikat dan yang itu pasti iblis. Tak ada tengah-tengah. Tengah-tengah itu munafik. Tengah-tengah itu tidak berpendirian.

Beberapa diktator sukses dibalik agitasi yang berdentum meski mereka dikutuk oleh sejarah. Nazi menjadi kekuatan yang dahsyat karena Hitler adalah seorang orator hebat yang tidak pernah ragu. Muncul di tengah bangsa Jerman yang sedang terpuruk dan luluh lantak oleh peluru Rusia. Kata-kata yang tajam dan langkah yang nekat, diwaktu yang tepat menjadi ampuh meyakinkan massa. Adolf Hitler menyulut bangsanya hanya dengan mengusung kemuliaan ras Aria dan menebar kebencian kepada non-Aria, tanpa ragu sedikitpun. Dan tak jauh dari itu, Benito Mussolini di Italia, juga para prajurit Kamikaze Jepang pada awal abad 20.

Keberanian tanpa kompromi kadang memang lebih memikat dibanding pikiran-pikiran matang sekalipun. Sebab masalah memang bisa diselesaikan secara lebih instan dengan menumpas masalah. Keberanian adalah magnet, menarik orang—dengan sukarela dan paksa—untuk bernaung dan bersembunyi. Melahirkan keonaran di satu pihak juga ketenteraman di lain pihak.

Maka tak heran para pemberani bisa meraup begitu banyak pengikut, dari yang setia hingga yang takut, dengan langkahnya yang mantap, jauh dari bimbang. Napoleon Bonaparte, sang penakluk ulung dari Prancis itu, misalnya. Konon ketika akan menaklukkan sebuah negeri, prajuritnya kecil hati, “Tuan, langkah kita terhalang oleh barisan gunung.” Dan tanpa sedikitpun berpikir, penakluk legendaris itu menyahut, “kalau begiut gunungnya kita bongkar.” Tak sedikitpun ia terlihat bimbang atau gentar, apalagi di depan prajuritnya.

Keberanian, ketegasan, kadang juga keneketan, tentu saja sebuah aset yang mahal. Pembayaran yang mahal untuk barang yang juga mahal. Keberanian mejadi kekuatan dahsyat, apalagi bila bersambut secara kolektif. Kekuatan dahsyat untuk mengubah. Kekuatan untuk merebut. Juga kekuatan untuk mendapat.

Pemimpin yang berani menantang mudah menuai kagum dari rakyat, terutama bagi yang merasa tersisih apalagi terancam. Maka tak heran di negeri ini, nama Bung Karno terdengar lebih heroik dibanding Bung Hatta. Bisa jadi karena Mohammad Hatta memang relatif lebih cair dan tidak begitu suka meneriakkan kata “Ganyang!”

Tak sedikit orang yang lebih mengagumi Usamah bin Laden atau Ahmadinejad daripada Abdus Salam, ilmuwan muslim India yang ahli Atom itu, atau Muhammad Yunus, peraih Nobel karena jasanya mengangkat ekonomi rakyat kecil di Bangladesh. Hal itu hanya karena Usamah dan Ahmadinejad sering mengucapkan kalimat “Habisi Amerika!” justeru pada saat kita merasa tak berdaya. Bukan karena mereka punya jasa.

Orang-orang Syiah, para pengikut Khomeini di Iran lebih menaruh hormat terhadap Sayyidina Husain, cucu Nabi yang konon terpenggal mengerikan karena perlawanan politik, daripada Hasan, cucu Nabi yang konon memilih kompromi dan menyerahkan kekuasaan. Pilihan kompromi itu ternata lebih bermanfaat bagi umat, tapi bagi Khomeini dan Syiah, Husain lebih revolusioner. Revolusi jelas lebih jantan dan memukau meski harus berakhir dengan kehancuran.

Adolf Hitler, Benito Mussolini hingga Jengis Khan, mendapat pengikut besar di aas tindakan brutal. Seperti juga Mike Tyson, menjadi idola karena tinju brutal yang bermodal berani dan kuat, tanpa teknik.

Ternyata untuk sesuatu yang buruk dan mengerikan, seroang manusia bisa mengail pikat dengan modal keberanian. Apalagi untuk sesuatu yang baik dan sejalan fitrah. Sayangnya untuk sesuatu yang baik kadang begitu banyak hal yang kita pertimbangkan untuk memilih langkah berani, apalagi untuk berteriak “Ganyang!” Ada apa dengan kita?