Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen unusia.ac.id)

“Kitab suci itu fiksi atau bukan? Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu “mengaktifkan imajinasi” maka kitab suci itu adalah fiksi karena belum selesai, belum tiba…”

Pernyataan Rocky Gerung dalam acara Indonesian Lawyers Club itu membuat sebagian kelompok tersentak, terperangah kemudian terdiam. Terdapat pula kelompok masyarakat yang tersengat dan mengambil kuda-kuda reaksi secara hukum. Itulah wajah buram masyarakat kita pasca Jokowi terpilih sebagai Presiden dan semakin menajam saat proses pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang dimenangkan Anies Baswedan.

Narasi di atas menggunakan awalan kata ‘kalau’ sehingga publik digiring untuk berdiskusi tentang teks suci terbatas dalam perspektif ketuhanan, fiksi dan imajinasi. Maka kehilangan relevansi berbantah-bantah dengan perspektif lain di luar tema tersebut.

Diskursus tentang teks suci di dunia Barat tak pernah usai. Gladys Hunt, aktivis InterVarsity Christian Fellowship, Cedar Campus, Michigan Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa fiksi adalah membentuk, membayangkan sesuatu yang abstrak dengan cara menggambarkannya. Maka basis fiksi itu sastra tentang sesuatu yang imajiner. Sebuah cerita dikreasi bukan berarti itu tidak benar. Maka Tuhan itu imajinatif sedangkan manusia diciptakan sebagai gambaran (image) Tuhan.
Sedangkan Bibel adalah antologi yang berisi puisi, kisah petualangan, misteri dan lainnya. Karena itu Bibel adalah buku sastra, karya seni dan itu imajinatif (Hunt, 2002).

Apabila Barat berbicara tentang agama bahkan Tuhan sekalipun berarti mereka sedang berdiskusi tentang teks suci. Reformasi Protestan yang sangat mementingkan teks suci untuk memahami agama. Kajian atas teks suci pun menyentuh aspek kesusastraan. Karena itu aspek sastra yang menguniversal menjadi alat untuk mengidealkan agama dan meletakkannya ke dalam dunia teks yang abstrak (King, 1999). Namun saya tidak menemukan konklusi kajian dari sarjana Barat yang secara tegas mengatakan bahwa teks suci itu fiksi.

Jika Barat melihat Bibel dengan pendekatan khusus berorientasi teks (text oriented approach) dengan menempatkan imajinasi sebagai faktor penting meski diakui tak selalu benar, lalu bagaimana orang Timur berpendapat tentang teks suci?

Para sarjana muslim tidak mengkategorikan al Quran sebagai sebuah teks. Mereka fokus kepada kajian al Quran sebagai bagian dari sifat Tuhan (mandatory natur of God). Al Quran diterima Muhammad dalam ‘susunan tutur’ yang tidak dalam bentuk teks (Sanusi, 1485) meski saat ini terdapat teks yang menggambarkan al Quran. Maka tidak mungkin al Quran yang tidak berbentuk teks itu divonis fiksi.

Perdebatan di internal sarjana muslim juga terjadi namun bukan pada kajian teks tapi pada status al Quran itu sebagai hasil kreasi yang bersifat baru atau bukan.