oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Siang itu civitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, mereka lebih suka menyebutnya dengan ‘unusia’, berkumpul di kawasan Jonggol. Rutinitas bulanan ini diselenggarakan secara bergilir, tergantung kesediaan salah seorang dari anggota perkawanan tersebut. Sehingga mungkin saja bulan ini lokasinya dekat sesuai harapan, namun di bulan depan cukup jauh dari lokasi yang diharapkan. Acaranya dikemas sederhana, santai sehingga suasana terasa sangat guyub. Anak-anak bermain dalam dunianya, para ibu bercengkerama yang sesekali diiringi gelak tawa. Sementara golongan laki-laki tak kalah ramainya, berbincang apa saja sesuka hati.

Seseorang mungkin saja sulit berkomunikasi, atau sulit berinisiatif untuk memulai bertegur sapa. Namun setelah terjadi komunikasi, kecenderungan masyarakat Indonesia itu memelihara intensitas komunikasi tersebut hingga terjadi perkawanan. Berinteraksi dengan orang-orang sekitar secara berulang-ulang tentu banyak manfaatnya. Minimal, pelakunya mengalami proses timbal balik pengaruh positif.

Seseorang yang rajin berinteraksi dengan sekitarnya dipastikan mempunyai relasi yang luas. Hubungan sosial yang luas akan memudahkan seseorang melakukan aktifitasnya. Termasuk saat ia ingin mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Melalui proses yang saling mempengaruhi saat berinteraksi tentu secara sadar akan muncul kejasama untuk meraih tujuan. Prinsip sosial berlaku, yaitu dengan bekerjasama lebih mudah mengatasi masalah daripada bekerja sendiri (Robert Lawang, 2004).

Perkawanan idealnya tidak sebatas perkawanan. Perkawanan yang sudah terajut menjadi hubungan kerjasama perlu ditingkatkan kualitasnya menjadi kerjasama yang produktif (Said Aqil, 2010). Seseorang yang telah terpengaruh relasinya akan menemukan manfaat perkawanan saat ia mampu melahirkan sebuah produk yang mempunyai nilai lebih dibanding sebelum menjalin perkawanan. Jika hal ini terjadi dalam kelompok sosial maka indikasi penguatan kelompok sosial.

Saya ingin mengatakan bahwa kekuatan kelompok sosial bisa dibangun dari yang paling dasar, yaitu perkawanan secara ajek. Saling mempengaruhi, bekerjasama, asimilasi, akomodasi dan akulturasi itu muncul dari keajekan perkawanan. Suatu kelompok yang telah melalui keajekan perkawanan akan mengalami konversi perkawanan, yaitu dari perkawanan sosial menjadi perkawanan finansial dan kekuasaan. Setiap individu-individu melakukan akumulasi finansial dan kekuasaannya untuk mendapatkan kepentingan yang lebih besar atas nama kelompok untuk modal melakukan perubahan sosial. Individu-individu dalam suatu kelompok yang berprofesi misalnya, sebagai dokter, politisi, akademisi, pengusaha, akan bahu membahu beraktualisasi mendorong masyarakat untuk bergerak mengikuti iramanya. Mereka juga mulai berani melakukan aksi penolakan dan bersikap kritis terhadap kepentingan yang berseberangan dengan dirinya.

Belajar dari logika Antony Giddens (1986), perkawanan yang ajek akan menghindarkan seseorang masuk dalam logika bahwa bekerja hanya bernilai tenaga kerja, mengeluarkan energi hanya menghasilkan sesuatu yang abstrak. Sebaliknya, perkawanan yang ajek akan melahirkan kekuatan yang dapat mendorong aktifitas ekonomi, membangun kemandirian dan pencerdasan. Kekuatan tersebut bersumber dari kapital yang terakumulasi secara sukarela dan daya kemandirian yang dimilikinya.

Perkawanan yang ajek terasa lebih kuat saat individu-individu pelakunya mempunyai basis nilai dan norma. Akumulasi kapital yang dikelola oleh individu yang berbasis nilai dan norma akan menempatkan penumpukan kapital sebatas penumpukan, bukan penguasaan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Perkawanan dalam konteks ini adalah kelompok kecil yang komitmen melakukan perubahan sosial.