oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi unusia.ac.id)

Sekelompok individu-individu tampak berdemonstrasi menyuarakan gagasan yang diyakini ideal perspektif agama. Mereka terobsesi agar gagasan yang ia impikan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bergerak melakukan perubahan tanpa mempertimbangkan realitas sosial. Disamping itu gagasan yang mereka klaim ideal ternyata bertumpu pada impian nalar  masing-masing.

Pada kasus lain tampak beberapa anak usia sekolah dasar bermain bersama. Di tengah keasikan bermain, mereka bergegas melaksanakan salat saat terdengar suara adzan. Usai salat mereka kembali melanjutkan permainannya. Fenomena anak kecil melaksanakan ritual keagamaan ini jamak terlihat dalam kelompok sosial yang menjunjung tinggi agama. Mereka membiasakan diri untuk disiplin beragama. Perilaku anak-anak itu bagian dari upaya melatih diri untuk komitmen beragama.

Puncak dari kajian manusia tentang ketuhanan adalah mengimplementasikan titah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan sosial yang memenuhi standar ketuhanan. Aktivitas sosial yang berdimensi ketuhanan. Itulah esensi manusia beragama. Sederhana parameternya, yaitu tindakan sosial yang mempunyai kebaikan untuk diri dan lingkungan sosialnya. Maka seseorang yang mengaku beragama berarti tindakan sosialnya harus berdimensi ketuhanan, bukan hanya sekedar suatu keyakinan yang kuat. Agama yang tidak bertumpu kepada kekuatan implementasi sangat berpotensi melahirkan kelompok sosial yang—kata Karen Amstrong (1993)—hanya meyakini agama sedemikian kuat namun kepada Tuhan kurang percaya.

Tantangan masyarakat beragama memang mewujudkan standar ketuhanan dalam tindakan sosialnya. Misalnya bertindak adil untuk semua orang, beraktifitas sambil menghormati hak-hak orang lain, dan lainnya. Obyeknya adalah tindakan yang berorientasi kebaikan sosial. Dinamika sosial yang terjadi dalam aktivitas manusia didorong oleh spirit yang diistilahkan oleh Hegel (1956) dengan ‘kekuatan motif’. Maka agama cukup terekspresikan dengan tindakan yang bermotif kebaikan secara individu atau bersama. Masyarakat beragama pun sering menemukan sosok hero pada seseorang yang motif tindakan individunya untuk kebaikan bersama.

Beragama yang tidak sampai pada implementasi maka akan dipahami sebatas impian pikiran manusia saat berada dalam realitas yang nyata, bukan di surga, sebagaimana pernyataan Ludwig Feurbach (1841). Gagasan Feurbach tentang agama tersebut tentu menimbulkan kekacauan relasi nalar dan tindakan. Agama yang dimaknai impian nalar seseorang memotivasi seseorang yang mengaku beragama bertindak merubah obyek sebagaimana adanya yang terdapat dalam imaginasinya, menjadi obyek yang seolah ada dalam realitas. Pada kasus heboh PERPPU No 2/2017 misalnya, akibat impian nalar kelompok kecil manusia tentang sesuatu yang diidealkan dalam alam realitas. Padahal faktanya terdapat kelompok sosial besar yang telah melakukan implementasi ketuhanannya di alam realitas yang sama.

Memahami agama model Feurbach inilah yang mendorong seseorang terobsesi menjadikan realitas sebagai esensi yang diidealisasikan. Realitas sosial di era Nabi-Nabi yang lalu diimaginasikan sebagai potret surga yang harus terealisasikan dalam kehidupan saat ini. Padahal era lalu terdiri dari sekumpulan tindakan individu-individu yang mempunyai standar ideal yang berbeda-beda. Sedangkan kekuatan nalar individu tidak akan mampu menyamakan tindakan individu-individu dalam satu impian pikiran.

Polemik beragama seperti ini yang membuat seseorang frustasi terhadap realitas. Ketiadaan gagasan yang utuh menguatkan tesis bahwa mereka itu mirip kaum feodal yang sedang menggunakan agama untuk membuat bingung dan mengontrol masyarakat.